16 September 2014

Mati perlahan

Cmst

Sepasang angin mulai bercumbu di pucuk malam yang mengutuk

Lahirkan titik titik embun lirih
diujung dedaunan

Jangkrik bersiul merdu

Sayup suara Ku si burung
hantu

Suasana malam yang kian
pekat nan senyap,
temaniku dalam pilu

Aku tergugu, gejolak rindu
seolah membeku

Rembulan yang tinggal
separuh mengintip dari celah
jendela kamarku

Dia pun terlihat agak sendu

Meski tetap tersenyum merayu

Seolah dia tahu gundahku…

Oh rembulan tahukah engkau…

Diujung langit mana dia
terbang?

Tak satupun nampak jejak juga
bayang

Masihkah rindu ini harus ku
genggam
hingga sampai saat itu
menjelang?

Aku mencintainya sepenuh hati

Amat merinduinya meski telah
pergi

Ku hanya ingin bertatap Walau
hanya sekejap

Namun itu takkan mungkin
terjadi

Tidakkah seharusnya rasa ini
telah mati
dan sirna dari hati ini…

Namun dia tetap bertahta di
palung sanubari…

JENONGKUH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar