27 Februari 2014

=WAHAI SEDULURKU ADAM SUFI BADANKU TIDUR ROHKU TERJAGA GERAKKAN AKU NUR MUHAMMAD===

Lombok 2009
______________________________

Sudah terlalu sering kita bahas di
banyak forum, termasuk di blog KWA
bahwa untuk mengenal Tuhan
seseorang harus terlebih dahulu
mengenal dirinya. Maksudnya, untuk
sampai kepada pengenalan terhadap
Tuhan, haruslah terlebih dahulu
dipahami dua hal. Pertama, ia harus
terlebih dahulu mengenal asal mula
akan kejadian dirinya sendiri, dari
mana, di mana dan bagaimana ia
dijadikan? Kedua, ia harus terlebih
dahulu mengetahui apa sesuatu
yang mula-mula dijadikan oleh Allah
SWT. Kedua perkara di atas menjadi
prasyarat kesempurnaan bagi para
salik dalam mengenal Allah.
Kita paham, yang mula-mula
dijadikan oleh Allah adalah Nur
Muhammad SAW yang kemudiannya
dari Nur Muhammad inilah Allah
jadikan roh dan jasad alam semesta.
Bermula dari Nur Muhammad inilah
maka semua roh termasuk roh
manusia diciptakan Allah sedangkan
jasad manusia diciptakan mengikut
jasad Nabi Adam as.
Karena itu, Nabi Muhammad Saw
adalah ‘nenek moyang roh’
sedangkan Nabi Adam as adalah
‘nenek moyang jasad’. Hakikat dari
penciptaan Adam as sendiri adalah
berasal dari tanah, tanah berasal
dari air, air berasal dari angin, angin
berasal dari api, dan api itu sendiri
berasal dari Nur Muhammad.
Sehingga pada prinsipnya roh
manusia diciptakan berasal dari Nur
Muhammad dan jasad atau tubuh
manusia pun hakikatnya berasal dari
Nur Muhammad. Jadilah kemudian
‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur
35), di mana roh yang mengandung
Nur Muhammad ditiupkan kepada
jasad yang juga mengandung Nur
Muhammad.
Bertemu dan meleburlah roh dan
jasad yang berisikan Nur Muhammad
ke dalam hakikat Nur Muhammad
yang sebenarnya. Tersebab
bersumber pada satu wujud dan
nama yang sama, maka roh dan
jasad tersebut haruslah disatukan
dengan mesra menuju kepada
pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat
Wajibul Wujud yang memberi cahaya
kepada langit dan bumi, dan yang
semula menciptakan, sebagaimana
mesranya hubungan antara air dan
tumbuhan, di mana ada air di situ
ada tumbuhan, dan dengan airlah
segala makhluk dihidupkan (QS. Al-
Anbiya 30).
Pengenalan terhadap hakikat Nur
Muhammad inilah maqam atau
stasiun yang terakhir dari pencarian
akan makrifah kepada Allah,
Martabat Nur Muhammad inilah
martabat yang paling tinggi, dan
pengenalan akan Nur Muhammad
inilah yang menjadikan ilmu menjadi
sempurna.
Nur Muhammad mempunyai dua
bentuk, yakni Nabi Muhammad yang
dilahirkan dan menjadi cahaya
rahmat bagi alam “tidaklah engkau
diutus wahai (Muhammad Rasulullah
Saw) melainkan menjadi rahmat bagi
seluruh alam” dan yang berbentuk
Nur.
Nur Muhammad adalah cahaya
semula yang melewati dari Nabi
Adam ke nabi yang lain bahkan
berlanjut kepada para imam maupun
wali; cahaya melindungi mereka dari
perbuatan dosa (maksum); dan
mengaruniai mereka dengan
pengetahuan tentang rahasia-rahasia
Illahi. Allah telah menciptakan Nur
Muhammad jauh sebelum diciptakan
Adam as. Lalu, Allah menunjukkan
kepada para malaikat dan makhluk
lainnya, bahwa: “Inilah makhluk
Allah yang paling mulia”. Oleh itu,
harus dibedakan antara konsep Nur
(Muhammad) sebagai manusia biasa
(seorang Nabi) dan Nur Muhammad
secara dimensi spiritual yang tidak
dapat digambarkan dalam dimensi
fisik dan realitas.
Nur Muhammad sebagai prinsip aktif
di dalam semua pewahyuan dan
inspirasi. Melalui Nur ini
pengetahuan yang kudus itu
diturunkan kepada semua nabi,
tetapi hanya kepada Ruh
Muhammad saja diberikan universal.
Nur Muhammad memiliki banyak
nama sebanyak aspek yang
dimilikinya. Ia disebut ruh apabila
dikaitkan dengan ketinggiannya.
Tidak ada kekuasaan makhluk yang
melebihinya, semuanya tunduk
mengitarinya, karena ia kutub dari
segenap ruh. Ia disebut al-Haqq al
Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat
pencipta), hanya Allah yang tahu
hakikatnya secara pasti.
Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena
tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal
pertama) karena wadah pengetahuan
Tuhan terhadap alam maujud, dan
Tuhanlah yang menuangkan
sebagian pengetahuannya kepada
makhluk. Adapun disebut al-Ruh al-
Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada
kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh
Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur)
adalah karena ia adalah
perbendaharaan ilmu tuhan dan
dapat dipercayai-Nya. Oleh itu,
tajalli al-Haq yang paling sempurna
adalah Nur Muhammad. Nur
Muhammad ini telah ada sejak
sebelum alam ini ada, ia bersifat
qadim lagi azali. Nur Muhammad itu
berpindah dari satu generasi ke
generasi berikutnya dalam berbagai
bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk
nabi penutup (khatamun nabiyyin),
Muhammad Saw.
Dalam teori martabat tujuh
dipahami bahwa dunia manusia
merupakan dunia perubahan dan
pergantian, tidak ada sesuatu yang
tetap di dalamnya. Segalanya akan
selalu berubah, memudar, dan
setelah itu akan mati. Oleh karena
itulah, manusia ingin berusaha
mengungkap hakikat dirinya agar
dapat hidup kekal seperti Yang
Menciptakannya. Untuk mengungkap
hakikat dirinya, manusia
memerlukan seperangkat
pengetahuan batin yang hanya
dapat dilihat dengan mata hati yang
ada dalam sanubarinya.
Seperangkat pengetahuan yang
dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah.
Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu
pengetahuan yang dapat dijadikan
pedoman bagi manusia untuk
mengenal dan mengetahui Allah.
Ilmu ma‘rifatullah dipilah menjadi
dua macam, yaitu ilmu makrifat
transeden dan ilmu makrifat imanen.
Tuhan menyatakan diri-Nya dalam
Tujuh Martabat, yaitu martabat
pertama disebut martabat tidak
nyata dan martabat kedua sampai
dengan martabat ketujuh disebut
martabat martabat nyata,
terinderawi. Yakni, martabat
Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa);
martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat
yang Esa); martabat Wahidiyyah
(ke-’ada’-an asma yang meliputi
hakikat realitas keesaan); Keempat,
martabat Alam Arwah; martabat
Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam
(alam benda); dan martabat Alam
Insan.
Ketujuh proses perwujudan di atas,
keberadaannya terjadi bukan melalui
penciptaan, tetapi melalui emanasi
(pancaran). Untuk itulah, antara
martabat transenden atau martabat
tidak nyata dengan martabat imanen
atau martabat nyata secara lahiriah
keduanya berbeda, tetapi pada
hakikatnya keduanya sama.
Seorang Salik yang telah mengetahui
kedua ilmu ma‘rifatullah, ia akan
sampai pada tataran tertinggi, yaitu
tataran rasa bersatunya manusia
dengan Tuhan atau dikenal dengan
sebutan Wahdatul-Wujûd. Hal
tersebut dapat dianalogikan dengan
air laut dan ombak. Air laut dan
ombak secara lahiriah merupakan
dua hal yang berbeda, tetapi pada
hakikatnya ombak itu berasal dari air
laut sehingga keduanya merupakan
satu kesatuan yang tidak dapat
terpisah.
Maqam Nur Muhammad adalah
maqam paling tinggi dari pencarian
dan pendakian sufi menuju makrifah
kepada Allah, tiada lagi maqam atau
stasiun paling tinggi sesudah ini.
Kesimpulannya, berbahagialah
orang-orang yang dapat
menyandingkan penyatuan sumber
asal mula penciptaannya dalam satu
harmoni, yakni Nur Muhammad,
sebab ia berada pada satu
kedudukan yang tinggi dan
terbukanya segala hijab yang
membatasinya.
Allah telah menciptakan Nur
Muhammad dan Nur itu telah
diwarisi melalui generasi nabi-nabi
hingga ia sampai kepada Abdullah
bin Abdul Muthalib dan turun
kepada Nabi Muhammad Saw.
“sesungguhnya yang mula-mula
dijadikan oleh Allah adalah cahaya-
ku (Nur Muhammad)”.
Sesungguhnya Allah menciptakan
sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu
daripada Nur-Nya’. Maka jadilah Nur
tersebut berkeliling dengan Qudrat-
Nya sekira-kira yang dihendaki Allah.
Padahal tiada pada waktu itu lagi
sesuatu pun; tidak ada lauh
mahfuzh, qalam, sorga, neraka,
Malaikat, langit, bumi, matahari,
bulan, jin dan manusia; tiada apa-
apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Dari nur inilah kemudian diciptakan-
Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy.
Allah kemudian memerintahkan
qalam untuk menulis, dan qalam
bertanya, “Ya Allah, apa yang harus
saya tulis?” Allah berfirman:
“Tulislah La ilaha illallah
Muhammad Rasulullah.” Atas
perintah itu qalam berseru: “Oh,
betapa sebuah nama yang indah dan
agung Muhammad itu, bahwa dia
disebut bersama Asma-Mu yang
Suci, ya Allah.” Allah kemudian
berkata, “Wahai qalam, jagalah
kelakuanmu ! Nama ini adalah nama
kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku
menciptakan arsy, qalam dan lauh
mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari
Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku
tidak akan menciptakan apa pun.”
Ketika Allah telah mengatakan
kalimat tersebut, qalam itu terbelah
dua karena takutnya akan Allah dan
tempat dari mana kata-katanya tadi
keluar menjadi tertutup, sehingga
sampai dengan hari ini ujung nya
tetap terbelah dua dan tersumbat,
sehingga dia tidak menulis, sebagai
tanda dari rahasia ilahiah yang
agung. Maka, jangan seorangpun
gagal dalam memuliakan dan
menghormati Nabi Suci, atau
menjadi lalai dalam mengikuti
contohnya (Nabi) yang cemerlang,
atau membangkang dan
meninggalkan kebiasaan mulia yang
diajarkannya kepada kita.
Berikut salah satu ilmu dalam
khasanah budaya nusantara agar kita
bisa menuju Nur Muhammad yang
Agung tersebut. Baca, hapal, hayati,
resapi dan amalkan dalam hidup
sehari-hari:
by
admin Cmst.bts.monta

1 komentar: